twitter


Istilah ethnoscience berasal dari kata ethnos dari bahasa Yunani yang berarti ‘bangsa‘ dan kata scientia dari bahasa Latin yang berarti ‘pengetahuan‘ (Werner and Fenton, 1970: 537). Etnosains kurang lebih berarti pengetahuan yang dimiliki oleh suatu bangsa atau lebih tepat lagi suatu sukubangsa atau kelompok sosial tertentu. Sturtevant (1961:99) mendefinisikannya sebagai system of know-ledge and cognition typical of a given culture. Penekanannya di sini adalah pada sistem atau perangkat pengetahuan, yang merupakan pengetahuan yang khas dari suatu masyarakat, karena berbeda dengan pengetahuan masyarakat yang lain.
Sebagai sebuah paradigma etnosains menggunakan definisi kebudayaan yang berbeda dengan paradigma-paradigma lain dalam antropologi budaya, yaitu definisi sebagaimana yang dikemukakan oleh Goodenough, yakni bahwa kebudayaan bukanlah fenomena atau gejala material kebudayaan.
does not consist of things, people, behavior or emotions. It is rather the organization of these things. It is the forms of things that people have in mind, their models for perceiving, relating and otherwise interpreting them as such. The things that people say and do, their social arrangement and events are products or by products of their culture as they apply it to the task of perceiving and dealing with their circumstances (1964: 36).
Dengan kata lain kebudayaan juga dapat dikatakan sebagai
..whatever it is one has to know or believe in order to operate in a manner acceptable to its members, and do so in any role that they accept for any one of themselves. Culture, being what people have to learn as distinct from their biological heritage must consist of the end product of learning: knowledge.. (1964: 36)
Definisi lain yang senada dan telah memberikan sumbangan pada munculnya kajian-kajian yang ethnoscientific adalah definisi kebudayaan dari Frake, yang merumuskan kebudayaan sebagai
a set of principles for creating dramas, for writing scripts, and of course, for recruiting players and audiences‘Culture is not simply a cognitive map that people acquire, in whole or in part, more or less accurately, and then learn to read. People are not just map-readers; they are map-makers‘.Culture does not provide a cognitive map, but rather a set of principles for map making and navigation. Different cultures are like different schools of navigation designed to cope with different terrain and seas (Frake, 1977: 6-7, dikutip dari Spradley, 1979: 7).
Dari rumusan-rumusan tentang kebudayaan di atas, kita dapat mengidentifikasi tiga hal yang kemudian menjadi topik-topik kajian dan memunculkan sebuah aliran pemikiran, sebuah paradigma, paradigma Etnosains.
Jenis kajian yang pertama memusatkan perhatian pada kebudayaan yang didefinisikan sebagai the forms of things that people have in mind, their models for perceiving, yang dalam hal ini ditafsirkan sebagai model-model untuk mengklasifikasi lingkungan atau situasi sosial yang dihadapi. Penelitian etnosains di sini bertujuan untuk mengetahui gejala-gejala materi mana yang dianggap penting oleh warga suatu kebudayaan dan bagaimana mereka mengorganisir berbagai gejala tersebut dalam sistem pengetahuan mereka. Bilamana ini dapat diketahui maka akan terungkap pula berbagai prinsip yang mereka gunakan untuk memahami lingkungan dan situasi yang dihadapi, yang menjadi landasan bagi tingkah laku mereka (Tyler, 1969: 3).
Setiap masyarakat, sukubangsa atau kelompok sosial tertentu pada dasarnya membuat klasifikasi yang berbeda atas lingkungan yang sama. Dengan mengetahui pengkategorisasian berbagai macam gejala dalam lingkungan ini akan dapat diketahui juga ‘peta kognitif‘ dunia dari suatu masyarakat tertentu (Frake, 1962: 75). Di sini peneliti berusaha mengungkap struktur-struktur yang digunakan untuk mengklasifikasi lingkungan, baik itu fisik maupun sosial. Dari berbagai studi etnosains yang telah dilakukan kita dapatkan misalnya penelitian tentang klasifikasi tumbuh-tumbuhan, klasifikasi berbagai jenis binatang, klasifikasi jenis-jenis penyakit, klasifikasi warna dan sebagainya.
Jenis kajian yang kedua mengarahkan perhatian pada kebudayaan sebagai whatever it is one has to know or believe in order to operate in a manner acceptable to its members, atau hal-hal yang harus diketahui oleh seseorang agar dia dapat mewujudkan perilaku atau melakukan sesuatu dengan cara yang dapat diterima oleh pendukung kebudayaan tersebut. Di sini yang menjadi perhatian utama adalah cara-cara, aturan-aturan, norma-norma, nilai-nilai, yang membolehkan atau melarang, serta mengarahkan atau menunjukkan bagaimana suatu hal —yakni pengembangan teknologi yang sudah dimiliki— harus atau sebaiknya dilakukan dalam konteks suatu kebudayaan tertentu. Misalnya saja, cara membuat rumah yang baik menurut pandangan orang Asmat di Papua; cara bersawah yang baik dalam pandangan orang Jawa, cara membangun sebuah kampung yang tepat menurut pandangan orang Batak, cara membuat bendungan yang baik menurut pandangan orang Bali, cara membuat perahu yang benar menurut orang Bugis dan sebagainya.
Jenis kajian yang ketiga memusatkan perhatian pada kebudayaan sebagai a set of principles for creating dramas, for writing scripts, and of course, for recruiting players and audiences atau seperangkat prinsip-prinsip untuk menciptakan, membangun peristiwa, untuk mengumpulkan individu-individu atau orang banyak. Penelitian mengenai prinsip-prinsip yang mendasari berbagai macam kegiatan dalam kehidupan sehari-hari ini penting bagi upaya untuk memahami struktur yang tidak disadari namun mempengaruhi atau menentukan per-wujudan perilaku dan tindakan sehari-hari. Penelitian dengan fokus pada prinsip-prinsip ini memang agak dekat dengan jenis kajian yang ke dua di atas, namun tetap berbeda. Prinsip-prinsip yang ditemukan dalam studi ketiga ini pada dasarnya merupakan prinsip-prinsip yang tidak disadari keberadaannya, atau berada pada tataran nirsadar.
Tiga jenis penelitian di atas merupakan jenis penelitian yang banyak dilakukan dalam Etnosains. Hasil-hasil penelitian semacam ini tampaknya memang teoritis, meskipun demikian tidak sedikit di antaranya yang kemudian sangat besar manfaat praktisnya, terutama dalam kaitannya dengan upaya untuk memasukkan unsur-unsur teknologi dan pengetahuan baru ke dalam suatu masyarakat dengan maksud untuk meningkatkan teknologi dan hasil aktivitas ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Berbagai jenis etnosains yang telah berhasil diteliti dan dideksripsikan oleh para ahli antropologi mencakup antara lain: jenis-jenis tanah, jenis-jenis binatang, jenis-jenis tanaman obat, dan jenis-jenis tumbuhan tertentu.
Dalam filsafat ilmu pengetahuan, istilah ‘sains‘ atau ilmu pengetahuan dibedakan dengan pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode tertentu serta mengikuti tata-urut tertentu dalam mendapatkannya. Setelah diperoleh, pengetahuan ini harus dapat diuji kebenarannya oleh orang-orang lain, sehingga ‘kebenaran‘ pengetahuan ini tidak lagi akan bersifat subyektif, tetapi intersubyektif. Atas dasar pengertian semacam ini maka etnosains dapat kita definisikan sebagai perangkat pengetahuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat/sukubangsa yang diperoleh dengan menggunakan metode tertentu serta mengikuti prosedur tertentu yang merupakan bagian dari ‘tradisi‘ mereka, dan ‘kebenarannya‘ dapat diuji secara empiris.
Dengan makna etnosains seperti itu maka etnoteknologi (etnotek) di sini dapat diartikan sebagai keseluruhan peralatan yang dimiliki suatu masyarakat atau kelompok sosial tertentu beserta dengan cara-cara pemakainya, yang digunakan untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah-masalah tertentu dalam berhadapan dengan situasi dan lingkungan tertentu. Etnotek ini dihasilkan dan dikembangkan oleh masyarakat atau kelompok sosial itu sendiri, dan diwariskan dari generasi ke generasi dalam kurun waktu yang relatif lama. Dalam konteks ini etnosains dan etnotek merupakan sistem pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh suatu masyarakat, sukubangsa, kelompok sosial tertentu, yang umumnya mempunyai ciri-ciri khusus tertentu yang membedakannya dengan sistem pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat yang lain.
Dengan menggunakan paradigma Etnosains-Etnotek maka akan dapat dicapai dua hal penting, yang semuanya merupakan pengejawantahan dari pengembangan dan pemberdayaan ‘Kebudayaan‘ sebagai perangkat pandangan hidup, perangkat pengetahuan, yakni: (1) Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berwawasan Budaya; (2) Pemberdayaan Pengetahuan dan Teknologi Etnik/Lokal.

0 komentar:

Poskan Komentar